My (endless) journey as a developer

By Heri Risnanto
Date Oct 17, 2021
Category Personal

Tulisan ini adalah cerita perjalanan gue dari satu titik pengalaman ke titik pengalaman lainnya, hingga sekarang bisa berada di titik ini, sebagai web developer yang juga menaruh minat pada desain produk digital. Ceritanya dimulai dari sini...

Jauh, jauh, di masa yang lalu

Salah satu tahap paling awal bagi gue untuk terjun ke dalam dunia pembuatan web adalah ketika gue membuat crossback.xtgem.com, sebuah wapsite yang gue buat langsung dari handphone Sony Ericsson K510i ketika masih berseragam putih biru. Ya benar, wapsite, halaman web yang dioptimalkan untuk bisa diakses melalui handphone, yang waktu itu—sebelum tahun 2010—kebanyakan handphone yang beredar masih berbasis Symbian & proprietary OS. Selain wapsite tadi, masih belum ada banyak perkembangan lainnya selain hanya membuat halaman blog menggunakan WordPress dan Blogger ketika gue sudah berseragam putih abu-abu.

Pengalaman membuat wapsite

Lompat jauh ke masa kuliah

Melewati jarak beberapa-tahun setelahnya, sampai lah pada titik di mana gue menjadi mahasiswa, tepatnya mahasiswa Sistem Informasi angkatan 2015. Semester-semester awal berlalu tanpa adanya peningkatan kemampuan pemrograman yang signifikan. Beruntungnya, gue berada di kelas yang mempertemukan gue dengan teman-teman yang punya kemauan besar untuk belajar, eksplorasi, mengembangkan diri, pergi ke sana-sini untuk ikut seminar & lokakarya, dan sumpah gue kangen banget sama masa-masa itu.

Oke, ada beberapa titik pencapaian yang patut gue ingat. Pertama, ketika gue bersama dengan 4 orang teman kelas lainnya, mencoba untuk membangun layanan online try out sebagai persiapan para pelajar SMA untuk menembus SBMPTN, yang kami beri nama TadribPTN. Kami yang waktu itu masih berada di tahun pertama perkuliahan, belum punya banyak pengetahuan untuk membangun sebuah website yang baik, apalagi untuk bisa melayani ratusan pengunjung sekaligus.

Akhirnya kami coba untuk menggunakan WordPress sebagai CMS yang di-deploy ke layanan shared hosting, dengan gue sebagai penanggung jawabnya. Kombinasi antara shared hosting, WordPress yang terpasang dengan beberapa plugin, dan traffic yang lumayan tinggi, akhirnya berhasil menumbangkan website kami beberapa kali sampai kami putuskan untuk meng-upgrade paket shared hosting yang kami gunakan. Dari pengalaman ini lah, awal mula gue mulai tertarik lagi untuk menyelam lebih jauh ke dalam dunia pengembangan web.

Pencarian

Melanjutkan pencapaian di paragraf sebelumnya, sampai lah gue di Semester 7 di tahun 2018, seperti pada umumnya merupakan tahun-tahun akhir masa kuliah. Gue yang waktu itu sudah banyak mengikuti seminar, lokakarya, atau bahkan masuk ke grup-grup komunitas pemrograman, merasa nggak punya pengalaman yang cukup untuk terjun langsung ke dunia kerja sebagai seorang developer. Akhirnya gue mencoba berbagai kesempatan internship yang bisa gue temui di internet.

Beberapa di antaranya, gue sempat coba untuk melamar posisi internship di Nodeflux sebagai Web Developer tapi nggak lolos dari tahap technical assessment yang menugaskan gue untuk membangun sebuah web app menggunakan React.js, yang hasilnya bisa dilihat di sini. Lalu, gue juga pernah mengikuti seleksi program BukaBeasiswa & BukaMagang dari Bukalapak, tapi lagi-lagi hanya bisa sampai di tahap technical test dan nggak lolos ke tahap berikutnya.

Kemudian yang paling teringat jelas di kepala gue, pengalaman yang cukup membuat gue merasa bangga tapi sekaligus malu, benar-benar malu, adalah ketika gue mencoba mengikuti seleksi program Tokopedia DevCamp 2018, batch pertama dari program tersebut yang terus diadakan setiap tahunnya sampai sekarang. Gue akhirnya bisa lolos dari tahap online coding test, dan bisa lanjut ke tahap HR & User interview. Bodohnya gue waktu itu, gue belum paham kalau ternyata ada kemungkinan di mana User interview itu bisa berupa live coding test di hadapan interviewer.

Hasilnya, gue gagal total, tanpa persiapan karena ketidaktahuan tentang live coding test itu, gue nggak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan, yang mana adalah soal-soal algoritma & struktur data. Rasanya benar-benar mati gaya di depan interviewer yang menguji gue waktu itu, terlebih ketika gue tau kalau kandidat lainnya berasal dari berbagai universitas ternama di Indonesia, yang sepertinya live coding test tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk dikerjakan oleh mereka, terlihat dari obrolan yang kami lakukan sambil makan siang setelah berakhirnya rangkaian interview tersebut, jelas, gue paling payah di antara semua kandidat.

Ya tapi bagaimanapun juga, bisa berada di kesempatan itu tetaplah sebuah pencapaian, ini jadi titik balik bagi gue untuk lebih serius lagi melatih dalam kemampuan coding yang gue miliki.

Balkon pertama

Setengah tahun berikutnya, di awal tahun 2019, gue mencoba melamar sebagai Front-End (FE) Engineer intern di sebuah startup bernama Atourin, dan inilah yang menjadi pekerjaan profesional pertama gue di bidang web developer. Gue mendapatkan tugas untuk mengembangkan sebuah halaman fitur baru dengan menggunakan framework Vue selama 3 bulan sesuai dengan masa internship yang gue punya.

Gue memulai dari nol, karna waktu itu adalah kali pertama bagi gue untuk menggunakan framework tersebut. Singkat cerita, 3 bulan berlalu dan pengembangan fitur tersebut masih terus berlanjut, sehingga gue masih melanjutkan posisi intern tersebut, sampai di bulan ke-5 gue mendapat kesempatan untuk naik status menjadi FE Engineer full-time di sana.

Tanpa melupakan banyaknya pengalaman di luar FE engineering yang gue dapatkan selama di sana, sampailah gue di akhir tahun, bulan Desember 2019 sebagai bulan terakhir gue bekerja, untuk kemudian kembali lagi berfokus menyelesaikan perkuliahan gue, di mana selama 2019 itu gue hanya memiliki waktu yang tersisa untuk menyelesaikan laporan magang, sedangkan skripsi sama sekali belum tersentuh.

Pindah ke sebelah

Keluar dari pekerjaan sebelumnya, bukan berarti gue benar-benar berhenti menambah beban pikiran juga sih, di bulan Desember 2019 itu sebenarnya gue bersama dua orang rekan, mencoba membangun tim freelance UI/UX Designer yang kami beri nama Koolab Studio, dengan project pertama untuk mendesain website suatu digital product di bidang financial technology, dari sini lah awal mula munculnya pemikiran gue untuk benar-benar berpindah dari dunia FE ke dunia UI/UX, ditambah sedikit rasa lelah atau mungkin burn out atas pengalaman satu tahun sebelumnya sebagai FE Engineer.

Pemikiran & usaha gue untuk mendalami UI/UX terus berjalan paling tidak sampai bulan April 2020. Kenapa begitu? Singkat cerita, skripsi gue yang awalnya direncanakan dengan topik UI/UX, gue batalkan dan gue ubah dengan topik pengembangan sistem informasi, ya benar, kembali lagi ke code editor, yang sampai di saat tulisan ini dibuat pun masih terus gue usahakan untuk bisa gue selesaikan secepatnya. Tapi bukan berarti gue benar-benar meninggalkan dunia UI/UX, sampai sekarang pun gue masih terus belajar, bersama dengan tim Koolab Studio yang lainnya.

Welcome home (again)!

"Halo her! Lo di sini lagi ya sekarang? hahaha", sambut diriku dari masa lalu. Yaa, namanya juga hidup, demi menolong diri gue dalam pengerjaan skripsi yang dia pikir dia yang paling hebat merasa paling jago dan paling dahsyat, eh.., gue akhirnya ikut beberapa online programming courses, nggak cuma satu-dua, tapi...

Pengalaman mengikuti online courses

Terlihat begitu ambisius, tapi gue salut sama diri gue karna bisa se-semangat itu dan banyak yang berhasil gue selesaikan juga, dibandingkan dengan gue yang sekarang ini rasanya nggak bisa se-semangat itu lagi. Balik lagi, bulan-bulan berlalu sampai di bulan Oktober 2020, tanpa diduga gue kembali bekerja untuk Atourin sebagai FE Engineer dengan status part-time. Tanggung jawabnya adalah untuk membuat keseluruhan front-end versi terbaru dari website Atourin dengan menggunakan Nuxt.js.

Untungnya di bulan April gue sempat menggunakan Nuxt.js dalam pembuatan personal website gue ini, jadinya nggak buta-buta banget. Tapi lagi-lagi gue merasakan lelahnya fisik & mental ketika mengerjakan pekerjaan front-end engineering ini. Enam bulan berlalu, akhirnya gue bisa menyelesaikan pengerjaan website tersebut di bulan April 2021, sesuai dengan rentang waktu yang direncanakan di awal, mungkin belum sampai pada hasil yang benar-benar sempurna, tapi tetap jadi kebanggaan tersendiri buat gue. Oh iya, sayangnya di saat gue berada di posisi FE Engineer tersebut, baik itu di 2019 maupun di 2020, gue nggak punya rekan FE Engineer lainnya, alias gue bekerja secara single player, sulit rasanya karna nggak ada rekan untuk berdiskusi & berbagi, atas pusingnya menghadapi pekerjaan FE.

Selepas itu, gue mengubah tanggung jawab gue di Koolab Studio yang awalnya sebagai UI/UX Designer untuk menjadi Web Developer, yang sekaligus memperluas cakupan project yang bisa kami terima, untuk menangani pembuatan digital product secara menyeluruh. Dimulai dengan project pembuatan website One Fit Garage yang keseluruhan prosesnya—termasuk brainstorming, designing, coding, deploying, improvement—kami selesaikan dalam waktu kurang lebih dua bulan sepanjang bulan April-Mei 2021.

Selanjutnya?

Sambil terus mengerjakan skripsi yang belum beranjak dari Bab IV, di bulan Juli-Agustus 2021 gue kembali mengisi waktu untuk menjadi mentor di sebuah program milik Mini Club Developer dari himpunan mahasiswa tempat gue berkuliah, sebuah komunitas developer yang proses terbentuknya—dengan susah payah—diamanatkan ke gue di tahun 2018. Berkat tangan hebat teman-teman pengurus tahun 2021, komunitas ini bisa berkembang begitu jauh, sulit rasanya untuk nggak menjadi bagian dari perkembangannya, hitung-hitung jadi kontribusi terakhir sebelum benar-benar pensiun dari aktivitas perkuliahan.

Pengalaman menjadi mentor di kelas belajar front-end development

Kagetnya, gue sendiri nggak nyangka bisa menyelesaikan 227 halaman slides pengajaran front-end development, untuk 18 pertemuan selama 5 minggu, yang membahas & mempraktikkan HTML, CSS, JavaScript, DOM, accessibility, Core Web Vitals, GIT, web storage, hingga deployment. Hari-hari berlalu dengan bikin materi, lalu lanjut mengisi kelas, begitu terus selama 5 minggu, yang secara nggak langsung memaksa gue untuk mempelajari kembali dasar-dasar dari pengembangan web, memperdalam kemampuan & pengetahuan gue, atau dalam istilah kerennya bisa disebut unlearn & relearn.

Saat tulisan ini dibuat di Oktober 2021, gue kembali fokus mengerjakan skripsi*. Mohon kerjasamanya her, Pak Dospem 1, Bu Dospem 2, supaya bisa lulus secepatnya 😭, demi mengurangi hambatan dalam hal proses pencarian kerja, dan hal-hal lainnya juga.

Mungkin sampai di sini dulu cerita rangkuman perjalanan gue yang kalo dilihat-lihat lagi seperti sudah ada benang merahnya sejak dulu kala. Sebagai kalimat penutup, "mau itu berhasil atau gagal, mudah atau sulit, senang atau sedih, suka atau engga, tetap aja di hari selanjutnya semua orang akan meneruskan usahanya, sampai tiba waktunya untuk berhenti". See you when I see you!

*Sambil tetap bandel mengerjakan satu-dua pekerjaan freelance lagi dan lagi.

Share